Blogger Widgets Sinau Basa Jawa bereng Hanif Rahma: Makalah Fonologi Bahasa Jawa

Senin, 23 September 2013

Makalah Fonologi Bahasa Jawa

BAB I
PENDAHULUAN


A.    Latar belakang
Masyarakat jawa di era modern ini semakin terpengaruh dengan Bahasa Indonesia. Kenyataan di masyarakat, mereka sering memakai Bahasa Jawa dan Bahasa Indonesia secara bersamaan, sehingga bahasanya menjadi tercampur. Selain itu, masalah yang tidak kalah penting adalah tentang penulisan dalam Bahasa Jawa, masyarakat sudah terpengaruh dengan penulisan Bahasa Indonesia. Padahal, seperti yang kita ketahui bahwa Bahasa Jawa memiliki fonem-fonem yang tidak dimiliki oleh bahasa lain. Ini menjadi perhatian kita bersama bahwa fonem-fonem Bahasa Jawa itu perlu kita analisis lagi sehingga msyarakat menjadi paham akan kekayaan fonem Bahasa Jawa.
Kurangnya pengetahuan mengenai fonem-fonem yang dimiliki Bahasa Jawa, menjadikan masyarakat tidak peka akan penulisan berbahasa Jawa. Mereka cenderung menuliskan kata sesuai dengan apa yang mereka dengar. Padahal, dalam Bahasa Jawa, ada beberapa fonem yang penulisannya tidak sesuai dengan pengucapannya. Sebenarnya, hal ini terjadi karena adanya pengaruh dari penulisan Bahasa Indonesia. Masyarakat menganggap bahwa penulisan berbahasa Jawa sama dengan penulisan berbahasa Indonesia. Anggapan mereka salah besar karena sesungguhnya penulisan Bahasa Jawa itu sangat-sangat berbeda dengan Bahasa Indonesia.
Maka dari itu, dalam makalah ini, akan dibahas mengenai penulisan tembang jawa yang masih banyak kesalahan. Tembang jawa yang saya pilih adalah tembang berjudul mancing karya Momo Kepus.

B.     Rumusan masalah
1.      Apakah yang dimaksud dengan fonologi dan fonetik?
2.      Apakah yang dimaksud dengan fonem bahasa jawa?
3.      Bagaimana penulisan tembang “mancing” meggunakan huruf fonetik?

C.    Tujuan
1.      Menjelaskan pengertian fonologi dan fonetik.
2.      Menjelaskan pengertian fonem bahasa jawa.
3.      Menjelaskan penulisan tembang “mancing” menggunakan huruf fonetik.

BAB II
PEMBAHASAN

A.    Fonologi
1.      Pengertian fonologi
Fonologi adalah ilmu yang mempelajari tentang bunyi bahasa. Bunyi yang dibahas fonologi adalah bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia, baik yang berfungsi sebagai pembeda makna maupun yang tidak mempunyai fungsi sebagai pembeda makna.
2.      Pengertian fonetik
Fonetik sifatnya umum karena fonetik mempelajari bunyi bahasa tanpa mengacu pada fungsi bunyi bahasa yang dihasilkan oleh alat ucap manusia. Fonetik hanya mempelajari bagaimana bunyi bahasa dihasilkan oleh alat ucap manusia dan bagaimana kualitas bunyi yang dihasilkan. Jadi fonetik adalah ilmu yang menyelidiki fungsi bunyi bahasa tanpa melihat fungsi bunyi itu sebagai pembeda makna.

Fonetik ada tiga, yaitu:
o   Fonetik organis/ artikulatoris/ fisiologis, yaitu ilmu yang mengkaji bagaimana bunyi bahasa itu dikonsumsi.
o   Fonetik akustis, yaitu ilmu yang mempelajari bagaimana bunyi bahasa itu berfungsi.
o   Fonetik auditiris yaitu ilmu yang mempelajari bagaimana bunyi bahasa itu diterima oleh telinga.

B.     Fonem bahasa jawa
Fonem adalah bunyi bahasa yang membedakan makna.
1.      Fonem vokal
Vokal merupakan bunyi bersuara yang dihasilkan oleh udara yang dikeluarkan dari paru-paru melalui mulut tanpa adanya hambatan.
Fonem vokal dibedakan menjadi 3, yaitu:
Ø  Berdasarkan posisi lidah
a.Vokal terbuka, jika lidah berada pada posisi  rendah. Misalnya bunyi [a].
b.Vokal madya, jika lidah berada pada posisi tengah. Misalnya bunyi [e],[ɛ],[ə],[ɔ], dan[o].
c.Vokal tinggi, jika lidah berada pada posisi atas. Misalnya bunyi [i],[u]

Ø  Berdasarkan bentuk bibir
a. Vokal bundar, ialah jika bentuk bibir mrmbulat. Contohnya vokal [ɔ], [u], dan[o].
b.Vokal tak bundar, ialah jika bentuk bibir melebar. Contohnya pada bunyi [e],[ɛ],[i], dan [a].
c. Vokal netral, ialah jika bentuk bibir tidak bulat dan tidak melebar. Contohnya adalah vokal [ɑ].
Ø  Berdasarkan tingkat pembukaan mulut

Menurut Daniel Jones, ada delapan vokal kardinal, yng diartikulasikan dengan lidah dan bibir pada posisi tetap, yaitu empat vokal depan dan empat vokal belakang. Kedelapan vokal itu adalah [i], [e], [ɛ], [a], [ɑ], [ɔ], [o], dan [u]. sedangkan fonem bahsa jawa.
Vokal bahasa jawa terdiri atas tujuh vokal, yaitu [i], [e], [ə], [a], ], [u], dan [o]. menurut Uhlenback, bunyi [ɔ] merupakan alofon fonem [a].

Tabel vokal bahasa jawa


Depan Tak Bundar
Tengah Tak Bundar
Belakang Bundar
Posisi Lidah Dan Mulut

Tinggi
Kuat

Lemah
i

I

u

ʊ
Tertutup

Agak
Tertutup

Agak
Terbuka

Terbuka
Sedang
Kuat

Lemah
e

ɛ

ə
o

ͻ
Rendah
Kuat

Lemah



a


Fonem vokal bahasa jawa tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:
§ /i/ adalah vokal tertutup tinggi-kuat depan-takbundar yang dihasilkan dengan posisi lidah bagian depan hampir menyentuh langit-langit dengan kedua bibir agak terentang ke samping.
§ /e/ adalah vokal agak tertutup sedang kuat depan-takbundar yang dihasilkan dengan daun lidah dinaikkan dan diiringi bentuk bibir yang netral, artinya tdak terentang dan juga tidak membundar.
§ /ə/ ialah vokal sedang-tengah takbundar atau vokal tengah pende setengah tertutup yang dihasilkan dengan menaikkan bagian tengah lidah dengan bentuk bibir netral.
§ /a/ ialah vokal terbuka rendah-lemah tengah-takbundar atau vokal tengah pendek setengah terbuka yang dihasilkan dengan biibir netral.
§ /ͻ/ yaitu vokal agak terbuka sedang-lemah belakang-bundar atau belakang pendek terbuka yang dihasilkan dengan bentuk bibir kurang bundar atu takbundar.
§ /o/ yaitu vokal agak tertutup sedang-kuat belakang-bundar yang dihasilkan dengan bentuk bibir bundar.
§ /u/ yaitu vokal tertutup belakang-bundar tinggi-kuat yang dihasilkan dengan meninggalkan bagian belakang lidah dengan posisi kedua bibir agak maju ke depan dan agak membundar.

Macam-macam fonem vokal
1.      Vokal /i/, terdiri dari 2 alofon :
a.        i (i jejeg)
Bunyi [i] dapat menduduki awal, tengah, dan akhir kata. Misalnya ijab,mrica dan tari.
b.      I [I miring]
Terletak pada kata yang diakhiri konsonan. Misalnya pada kata cacing (cacIng), wajik (wajIk)

2.      Vokal /e/
Vokal mempunyai 2 alofon, yaitu:
a.      /e/ (e swara jejeg/ e taling) menduduki semua posisi baik awal, tengah, dan akhir. Misalnya kata eman ‘sayang’, sela ‘batu’dan gule’gulai’.
b.      /ɛ/ (e swara miring) terletak pada awal dan tengah kata. Misalnya estu’jadi’, saren ’marus’ dan gepeng ’gapeng’.
3.      Vokal ə
Vokal /ə/ dalam bahasa Jawa bukan merupakan alofon fonem /e/ melainkan merupakan fonem tersendiri karena kedua bunyi itu dalam bahasa Jawa dapat membedakan makna.
Misal:
Kere [ kere] = miskin                    Kere [kəre] = tirai bamboo
Geger [gɛgɛr]= huru hara              geger [ gəgər]= punggung
4.      Vokal /a/
terletak di depan, tengah, dan akhir. Contohnya
Aku            laris                ora               
5.      Vokal /ɔ/
Bukan merupakan alofon dari /o/, namun vokal yang berdiri sendiri. Terletaki awal, tengah, dan akhir kata.
Misal : Amba             rata                 ula
6.      Vokal /o/
Terletak di awal, tengah, akhir kata. Misal : Obah         coba                 kebo
7.      Vokal /u/
Mempunyai 2 alofon, yaitu
·         u (swara jejeg)
Terletak di awal, tengah, dan belakang kata.
Misal: Urip                   wuta              madu
·         u swara miring
Barada di tengah kata.
Misal : Biyung parut                pupur




Fonem Vokal
Alofon

Awal
Tengah
Akhir
/i/
[i]
[iki]
[gilɔ]
[pari]
[I]
-
[jaIl]
-
/e/
[e]
[enaʔ]
[lele]
[sore]
[Ɛ]
[ƐlƐʔ]
[bƐbƐʔ]
-
/Ə/
[Ə]
[Əntup]
[antƏm]
-
/a/
[a]
[awaʔ]
[jaran]
[ora]
/ɔ/
[ɔ]
[ɔnɔ]
[ɔkɔl]
[lɔrɔ]
/o/
[o]
[ogaʔ]
[bocah]
[loro]
/u/
[u]
[urip]
[gulɔ]
[putu]
[ʊ]
-
[abʊh]
-

 
2.      Fonem konsonan
Konsonan adalah bunyi yang timbul akibat udara yang keluar dari paru-paru melalui rongga mulut atau rongga hidung. Udara yang keluar dari rongga hidung akan menghasilkan bunyi sengau, sedangkan udara yang keluar dari rongga mulut akan mengalami hambatan, geseran, dan sentuhan lidah atau bibir sesuai dengan daerah artikulasinya.
Berdasar daerah artikulasinya, bunyi dibedakan menjadi
Ø  Bunyi bilabial, adalah bunyi bahasa yang dihasilkan oleh kedua bibir. Menghasilkan bunyi [b] dan [p], [m], dan [w].
Ø  Bunyi dental/ alveolar, adalah bunyi bahasa yang dihasilkan oleh daun lidah yang menempel pada gigi/ gusi depan atas bagian dalam. Menghasilkan bunyi [d], [t], [s], [n], [r], dan [l].
Ø  Bunyi retrofleks, adalah bunyi yang dihasilkan oleh pelepasan ujung lidah bagian bawah yang menempel atau menyentuh langit-langit keras karena hembusan udara dari paru-paru. menghasilkan bunyi [ɖ] dan [ʈ].
Ø  Bunyi palatal, adalah bunyi yang dihasilkan oleh pelepasan daun lidah yang menempel pada langit-langit keras yang disertai hembusan udara dari paru-paru. Menghasilkan bunyi [j], [c], [z], [ʃ], [ɲ], dann [y].
Ø  Bunyi velar, adalah bunyi yang dihasilkan oleh rongga tenggorokan. Menghasilkan bunyi [g], [k], [x], dan [ŋ].
Ø  Bunyi glotal menghasilkan bunyi [v] dan [f]

       daerah artikulasi



cara artikulasi
bilabial
dental
dental
retrofleks
palatal
velar
glotal
Hambat
Bersuara
b

D
ɖ
j
g

Takbersuara
p

T
ʈ
c
k
ʔ
Frikatif
Bersuara

v*


z*


Takbersuara

f*
S

ʃ**
x
h
Nasal
Bersuara
m

N

ɲ
ŋ

Getar
Bersuara


R




Lateral
Bersuara


L




Semivokal
Bersuara
w



y


  Tabel konsonan bahasa jawa

C.    Penulisan tembang “mancing” menggunakan huruf fonetik.
Mancing
Ciptaan : Momo Kepus
Vokal : 5 Garangan
Produksi : ??
Mancing iwak, ring ketapang
Umpane urang lan kesenengan
Umpan dibuang, ring tengah
segoro
Nguncalaken sumpeke pikiran
Sopo weruh, oleh iwak
Putri duyung hang ayu pisan,
Nak sun kudang, nak sun eman
Mergane yo sing kiro kedonyan
Aduh senenge ati, umpanisun dipangan
Senare sun kencengi, koyo ono setrume
Rasane atinisun, muluk ring awang-awang
Girange sing karuan, koyo nemu berlian
Susahe ati ilang
Mancing iwak, ring ketapang
Umpane urang lan kesenengan
Umpan dibuang, ring tengah
segoro
Nguncalaken sumpeke pikiran
Aduh senenge ati, umpanisun dipangan
Senare sun kencengi, koyo ono setrume
Rasane atinisun, muluk ring awang-awang
Girange sing karuan, koyo nemu berlian
Susahe ati ilang
Aduh senenge ati, umpanisun dipangan
Senare sun kencengi, koyo ono setrume
Rasane atinisun, muluk ring awang-awang
Girange sing karuan, koyo nemu berlian
Susahe ati ilang




      Pada penulisan tembang mancing di atas, masih terdapat beberapa kesalahan penulisan. Contohnya pada kata-kata yang dicetak tebal.
Ø  Kata ‘segoro’ seharusnya ditulis ‘segara’ fonetisnya ‘səgͻrͻ’.
Meskipun dibaca ‘səgͻrͻ’, tapi tidak boleh ditulis dengan ‘segoro’ karena kata ‘segoro’ tidak memiliki arti, sedangkan yang dimaksud dalam tembang ini adalah ‘laut’, jadi penulisan yang benar adalah ‘segara’.
Ø  Kata ‘sopo’ seharusnya ditulis ‘sapa’ fonetisnya ‘sͻpͻ’.
Kata ‘sopo’ tidak ada maknanya, sedangkan yang dimaksud dalam tembang mancing adalah menunjuk pada orang. Kata ‘sapa’ juga dapat diartikan sebagai kata tanya untuk menanyakan hal-hal yang berkaitan dengan seseorang.
Ø  Kata ‘yo’ seharusnya ditulis ‘ya’ fonetisnya ‘yͻ’.
Kata ‘yo’ bermakna ‘ayo’, sedangkan kata ‘ya’ dapat bermakna ‘iya’. Jadi penulisan yang benar adalah ‘ya’.
Ø  Kata ‘kiro’ seharusnya ditulis ‘kira’ fonetisnya ‘kirͻ’.
Kata ‘kiro’ tidak memiliki arti, sedangkan kata ‘kira’ artinya ‘kira-kira’ atau ‘dugaan’. Jadi penulisan yang benar adalah kata ‘kira’ dan fonetisnya adalah kirͻ’.
Ø  Kata ‘aduh’ seharusnya ditulis ‘adhuh’ fonetisnya ‘aɖuh’.
Apabila dituliskan ‘aduh’ maka maknanya adalah ‘sangat jauh’. Kata ‘aduh’ berasal dari kata ‘adoh’ yang berarti jauh. Kata ini sudah mengalami diftongisasi (pendiftongan) untuk menyatakan intensitas. Dalam menyatakan intensitas menggunakan variasi fonem vokal atau menambahkan kata banget atau temen yang diletakkan di sebelah kanan kata yang akan diberi penekanan. Sehingga penulisan yang benar adalah ‘adhuh’ yang dapat berarti sebagai kata untuk mengeluhkan rasa sakit atau bisa pula karena terkejut. Dan dalam tembang ini yang dimaksudkan adalah menggambarkan kata seru sebagai pendukung untuk mengungkapkan kegembiraan.
Ø  Kata ‘koyo’ seharusnya ditulis ‘kaya’ fonetisnya ‘kͻyͻ’.
Kata ‘koyo’ artinya adalah plester yang ditempel dikulit untuk mengobati sakit, sedangkan ‘kaya’ maknanya adalah ‘seperti’ atau ‘seumpama’.
Ø  Kata ‘ono’ seharusnya ditulis ‘ana’ fonetisnya ‘ͻnͻ’.
Kata ‘ono’ tidak memiliki arti sedangkan kata ‘ana’ bermakna ‘ada’ sehingga penulisan yng benar adalah ‘ana’ dan fonetisnya adalah ‘ͻnͻ’

Kesalahan penulisan ini terjadi karena kurangnya pemahaman dari penulis. Kebanyakan orang menganggap bahwa penulisan Bahasa Jawa sama dengan penulisan Bahasa Indonesia. Padahal penulisan Bahasa Jawa memiliki banyak perbedaan dengan penulisan Bahasa Indonesia dan bahasa-bahasa yang lain. Penulisan yang salah, tentu saja akan mempengaruhi makna dari suatu kata itu.


Penulisan fonetisnya tembang mancing adalah sebagai berikut

Manchɪŋ

manc hɪŋ iwaʔ, rɪŋ kəthaph
umphane uraŋ lan kəsənəŋan
umphan dhibhuwaŋ, rɪŋ thəŋah səghͻrͻ
ŋunchalakən sumphəɁe pikiran
sͻpͻ wərʊh, olɛh iwaʔ
puthri ɖhuyʊŋ haŋ ayu phisan,
nak sʊn kudhaŋ, nak sʊn eman
mərghane yͻ sɪŋ kirͻ kədhoɲan
huh sənəŋe athi, umphanisʊn dhiphaŋan
sənare sʊn kəncəŋi, kͻyͻ ͻnͻ səthrume
rasane athinisʊn, mulʊɁ rɪŋ awaŋ-awaŋ
ghiraŋe sɪŋ karuwan, kͻyͻ nəmu bərliyan
susahe athi ilaŋ
manc hɪŋ iwaʔ, rɪŋ kəthaph
umphane uraŋ lan kəsənəŋan
umphan dhibhuwaŋ, rɪŋ thəŋah səghͻrͻ
ŋunchalakən sumphəɁe pikiran
huh sənəŋe athi, umphanisʊn dhiphaŋan
sənare sʊn kəncəŋi, kͻyͻ ͻnͻ səthrume
rasane athinisʊn, mulʊɁ rɪŋ awaŋ-awaŋ
ghiraŋe sɪŋ karuwan, kͻyͻ nəmu bərliyan
susahe athi ilaŋ
huh sənəŋe athi, umphanisʊn dhiphaŋan
sənare sʊn kəncəŋi, kͻyͻ ͻnͻ səthrume
rasane athinisʊn, mulʊɁ rɪŋ awaŋ-awaŋ
ghiraŋe sɪŋ karuwan, kͻyͻ nəmu bərliyan
susahe athi ilaŋ


BAB III
PENUTUP

1.      Kesimpulan
Dalam penulisan Bahasa Jawa yang masih sering mengalami kesalahan, disebabkan oleh kurang pahamnya masyarakat terhadap penulisan bahasanya sendiri. Dalam suatu bahasa yang serumpun, penulisan yang berbeda pada suatu kata akan memengaruhi makna dari suatu kata itu. Apabila penulisan kata itu berbeda, maka maknanya tentu saja berbeda. Jadi dapat disimpulkan bahwa penulisan yang berbeda akan memengaruhi makna yang terkandung dalam suatu kata tersebut.

2.      Saran
Penulisan bahasa jawa masih sering mengalami kesalahan, terutama dalam menuliskan bunyi /a/, masyarakat justru menggunakan bunyi /o/. Selain itu, masyarakat juga sering salah dalam menuliskan /dh/ menjadi /d/. Dalam menuliskan Bahasa Jawa harus teliti agar tidak terjadi kesalahan tulisan yang menyebabkan berubahnya makna. Masyarakat perlu diberi pemahaman lebih agar mereka mengerti tentang fonem-fonem Bahasa Jawa sehingga mereka tidak akan salah dalam menulis berbahasa jawa. Masyarakat harusnya juga lebih peka terhadap fonem-fonem bahasa jawa yang beragam dan berbeda dari bahasa-bahasa yang lain.


DAFTAR PUSTAKA

Sasangka, Sry Satriya Tjatur Wisnu. 2011. Bunyi-Bunyi Distingtif Bahasa Jawa. Yogyakarta: Elmatera Publishing.
Balai Bahasa Yogyakarta. 2000. Kamus Bahasa Jawa (Bausastra Jawa). Yogyakarta: Kanisius.

2 komentar: